Teguh Blogs

Just another Blogstudent.mb.ipb.ac.id Blogs weblog

TAKEHOME EXAM SIM UAT

  • December 29, 2010 5:13 pm

PENDAHULUAN

Era globalisasi saat ini dunia usaha dihadapkan pada situasi atau kondisi persaingan yang semakin ketat yang menuntut perusahaan untuk menjalankan usahanya dengan lebih efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan perusahaan. Sebagian besar perusahaan menetapkan persoalan laba sebagai tujuan perusahaan, untuk dapat mencapai tujuan tersebut manajemen perusahaan harus dapat mengkoordinir secara rasional sumber-sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Sejalan dengan tingginya tingkat persaingan, perkembangan perekonomian dan kemajuan teknologi maka, peranan informasi menjadi sangat penting demi kemajuan perusahaan. Informasi yang cepat, akurat dan berdaya guna merupakan sarana bagi pihak manajemen dalam mengelola perusahaan dan sebagai pelaporan bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Pentingnya informasi yang ada menuntut adanya suatu system yang dapat mengelola data-data menjadi informasi yang berguna bagi perusahaan. Oleh karena itu setiap perusahaan harus memiliki system informasi manajemen yang memadai sesuia dengan kebutuhannya 

Sistem informasi adalah suatu kumpulan dari komponen-komponen dalam perusahaan atau organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi. Sistem informasi dapat juga didefinisikan sebagai suatu sistem yang menerima sumber data sebagai input dan mengolahnya menjadi output. Sistem informasi merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa subsistem atau komponen hardware, software dan brainware, data dan prosedur untuk menjalankan input, proses, output, penyimpanan, dan pengontrolan yang mengubah sumber data menjadi informasi.

Seiring dengan perkembangan dunia usaha, maka sistem informasi pun ikut berkembang untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Pengembangan SIM memerlukan sejumlah orang yang berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer organisasi. SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat. Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan uang. Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun dalam praktek SIM yang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan pemrosesan komputer.

Penerapan sistem infromasi manajemen disuatu perusahaan yang bertujuan untuk mendukung tercapainyan perusahaan pasti akan menimbulkan banyak hal, baik yang positif maupun hal negatif bagi perusahaan tersebut. Oleh karena itu perusahaan harus menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terjadinya hal-hal tersebut.

 


 

PEMBAHASAN

 

2.1. Penggunaan system informasi untuk menunjang strategi perusahaan

System informasi merupakan suatu system yang tidak mungkin terpisahkan  dari kegiatan usaha saat ini. Kemajuan system informasi saat ini telah mampu mempermudah aktivitas-aktivitas yang dulunya sulit atau mahal untuk dilakukan dalam suatu bisnis. system informasi  juga digunakan untuk menunjang pelaksanaan  strategi perusahaan sehingga tujuan dari suatu perusahaan dapat tercapai. System informasi memiliki beberapa peranan penting dalam tercapainya tujuan perusahaan, peranan tersebut adalah :

2.1.1. Mendukung Operasi Bisnis

System informasi mampu mendukung seluruh kegiatan operasi perusahaan. Dengan adanya system informasi yang baik maka kegiatan operasi perusahaan dapat dilakukan dengan lebih baik, cepat dan akurat. Sistem informasi mampu mendukung semua kegiatan mulai dari system keuangan hingga pergudangan, sistem informasi menyediakan dukungan bagi manajemen dalam operasi/kegiatan bisnis sehari-hari dengan labih baik yang didukung dengan pengelolaan data yang terintegrasi. Beberapa klasifikasi SI yang digunakan untuk mendukung Operasi bisnis adalah :

1. Transaction Processing Systems (TPS)

Berkembang dari sistem informasi manual untuk sistem proses data dengan bantuan mesin menjadi sistem proses data elektronik (electronic data processing systems). TPS mencatat dan memproses data hasil dari transaksi bisnis, seperti penjualan, pembelian, dan perubahan persediaan. TPS menghasilkan berbagai informasi produk untuk penggunaan internal maupun eksternal. Sebagai contoh, TPS membuat pernyataan konsumen, cek gaji karyawan, kuitansi penjualan, order pembelian, formulir pajak dan rekening keuangan. TPS juga memperbaharui database yang digunakan perusahaan untuk diproses lebih lanjut oleh SIM.

2. Process Control Systems (PCS)

Sistem informasi operasi secara rutin membuat keputusan yang mengendalikan proses operasional, seperti keputusan pengendalian produksi. Hal ini melibatkan process control systems yang keputusannya mengatur proses produksi fisik yang secara otomatis dibuat oleh komputer.

3. Office Automation Systems (OAS)

Office automation systems (OAS) mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan mengirim data dan informasi dalam bentuk komunikasi kantor elektronik. Contoh dari office automation (OA) adalah word processing, surat elektronik (electronic mail), teleconferencing, dan lain-lain.

2.1.2. Mendukung Pengambilan Keputusan Managerial.

Data-data yang dimiliki perusahaan tidak berarti apapun jika hanya masih berbentuk data dan tidak dapat diubah menjadi sebuah informasi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Dengan Sistem informasi data-data yang dimiliki oleh perusahaan dikelola dan diintegrasikan dengan baik sehingga mampu menghasilkan suatu informasi yang dibutuhkan oleh manejer. Dengan dilengkapi informasi yang berkualitas maka seorang manajer mampu menghasilkan keputusan yang tepat. Beberapa klasifikasi SI yang dapat mendukung keputusan pengambilan menejerial adalah :

1. Information Reporting Systems (IRS)

IRS menyediakan informasi produk bagi manajerial end users untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan dari hari ke hari. Akses data IRS berisi informasi tentang operasi internal yang telah diproses sebelumnya oleh transaction processing systems. Informasi produk memberi gambaran dan laporan yang dapat dilengkapi (1) berdasarkan permintaan, (2) secara periodik, atau (3) ketika terjadi situasi pengecualian. Sebagai contoh, manajer penjualan dapat menerima laporan analisa penjualan setiap minggunya untuk mengevaluasi hasil penjualan produk.

2. Decision Support Systems (DSS)

DSS merupakan kemajuan dari information reporting systems dan transaction processing systems. DSS adalah interaktif, sistem informasi berbasis komputer yang menggunakan model keputusan dan database khusus untuk membantu proses pengambilan keputusan bagi manajerial end users. Sebagai contoh, program kertas kerja elektronik memudahkan manajerial end user menerima respon secara interaktif untuk peramalan penjualan atau keuntungan.

3. Executive Information Systems (EIS)

Executive information systems (EIS) adalah tipe SIM yang sesuai untuk kebutuhan informasi strategis bagi manajemen atas. Tujuan dari sistem informasi eksekutif berbasis komputer adalah menyediakan akses yang mudah dan cepat untuk informasi selektif tentang faktor-faktor kunci dalam menjalankan tujuan strategis perusahaan bagi manajemen atas. Jadi EIS harus mudah untuk dioperasikan dan dimengerti (O’brien, 2000).

2.1.3. Mendukung Keunggulan Strategis.

Penggunaan system informasi yang tepat oleh suatu perusahaan akan menambah daya saing perusahaan tersebut. Merujuk pada toeri berlian potter mengenai competitive advantages strategi menyebutkan bahwa factor –faktor yang mempengaruhi persaingan dalam suatu industry adalah 1. Pesaing, 2. Ancaman pendatang baru, 3. Ancaman produk subtitusi, 4. Kekuatan tawar konsumen, 5. Kekuatan tawar pemasok. Keseluruhan strategi bisnis pada suatu perusahaan akan menggerakkan seluruh strategi lainnya, Porter mendefinisikan keunggulan kompetitif ini untuk menggambarkan beragam strategi bisnis yang ditemukan di pasar. Sebagai contoh, perusahaan yang menggunakan strategi cost leadership adalah Walmart, Suzuki, Overstock.com; perusahaan yang menggunakan strategi differentiation adalah Coca Cola, Progressive Insurance, Publix; perusahaan yang menggunakan strategi focus adalah The Ritz Carlton, Marriott.

Gambar 1. Tiga Strategi untuk Mencapai Keunggulan Kompetitif

Sistem informasi memungkinkan sebuah bisnis diimplementasikan berdasarkan strategi bisnisnya, dan membantu penjabaran kemampuan perusahaan. Empat kunci komponen infrastruktur sistem informasi adalah kunci untuk strategi sistem informasi seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Komponen kunci tersebut dapat membantu general manager dalam menilai isu kritis dari siste, informasi.

               Gambar 2. Matriks Strategi Sistem Informasi

2.2. Penyebab kegagalan pengembangan dan penerapan system informasi dalam sebuah organisasi dengan merujuk kepada pendapat Rosemary Cafasaro.

 

Rosemary Cafasaro dalam O’Brien (2005) menyatakan beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan atau kegagalan penerapan sistem informasi dalam suatu organisasi/perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan tersebut antara lain karena adanya dukungan dari manajemen eksekutif, keterlibatan end-user (pemakai akhir), penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas, perencanaan yang matang dan harapan perusahaan yang nyata.

2.2.1. Dukungan dari manajemen eksekutif

Pengembangan dan implementasi SI merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan murah, manajemen harus mau menyediakan dana, informasi dan waktu yang cukup dalam pekerjaan ini. Dana dibutuhkan untuk membeli teknologi yang akan digunakan. Waktu diperlukan untuk melakukan diskusi dengan bagian IT informasi atau aturan apasaja yang harus dijalankan dan informasi-informasi apa saja yang dapat diberikan dan yang hanya dapat diakses secara terbatas. Dalam pengembangan SI dibutuhkan dukungan dari semua lini manajemen termasuk jajaran eksekutif. Terlibatnya jajaran eksekutif dalam merancang implementasi teknologi informasi sangat dibutuhkan untuk menterjemahkan bahasa bisnis kedalam bahasa yang dapat diterapkan dalam sistem informasi. Ross dan Weill berpendapat setidaknya ada enam kebijakan yang harus diambil oleh eksekutif puncak untuk mengembangkan teknologi informasi  di perusahaan yaitu:

  1. Anggaran yang akan dibelanjakan untuk mengimplementasikan teknologi informasi.
  2. Proses bisnis yang akan memperoleh investasi teknologi informasi
  3. Kemempuan teknologi informasi apa saja yang perlu diperluas
  4. Seberapa bagus jasa teknologi informasi yang dibutuhkan
  5. Sejauh mana resiko keamanan dan privasi yang berlaku
  6. Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kegagalan dalam penerapan sistem teknologi informasi

            Keterlibatan eksekutif dalam pengembangan teknologi informasi di dalam suatu perusahaan juga membutuhkan perubahan dalam manajemen (change management) dan budaya perusahaan.

Sumber daya manusia mutlak untuk dipersiapkan dengan serius jika perusahaan ingin menerapkan suatu sistem teknologi informasi. Hal ini sering menjadi salah kaprah dipihak eksekutif, menganggap karyawan dapat mengalami masa transisi selama penerapan sistem baru dapat menjadi pemecahan masalah. Akibatnya implementasi sistem informasi berjalan tersendat-sendat, karena karyawan dipaksa untuk melakukan perubahan skill, kompetensi, proses kerja, perilaku, mindset, komitmen secara bersamaan. Belum lagi munculnya efek polotik di dalam perusahaan seperti pengurangan karyawan, sponsorship dan lain sebaginya. Perencanaan yang matang dan jauh hari sebelum sistem baru diterapkan   perlu dipikirkan oleh pihak eksekutif agar transformasi sistem yang dilakukan tidak menemui kendala di kemudian hari. Evaluasi yang konsisten terhadap kelemahan dalam penerapan sistem baru dapat mengurangi resiko gagalnya penerapan sistem teknologi informasi di suatu perusahaan.

2.2.2. Keterlibatan end-users (pemakai akhir)

Suatu sistem yang dikembangkan dan dimplementasikan dalam suatu perusahaan akan berhasil jika SI tersebut dikembangkan dan di implementasikan dengan melibatkan penggunaanya. Pengguna dari SI tersebut ikut terlibat dalam pengembangan dengan memberikan pernyataan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Dengan adanya penjelasan mengenai apa kebutuhan mereka maka perancang system akan lebih mudah menentukan fitur-fitur apa yang akan dimasukkan kedalam SI yang dibuat sesuai dengan kebutuhan penggunaanya.

Pengembangan SI tidak hanya menjadi tugas dari perancang SI tersebut atau bagian IT dari perusahaan. Bagian IT dan perancang hanya mengerti bagaimana membuat atau menerjemahan kebutuhan pengguna kedalam bahasa elektronik atau computer, sedangkan data, informasi, ketentuan yang akan digunakan, kebutuhan, harapan, serta tujuan penggunaan SI merupakan suatu hal yang harus dirumuskan oleh pengguna, yang kemudian dikomunikasikan kepada bagian perancang untuk diterjemahkan kedalam bahasa komputer.

Minimnya peran pengguna dalam dalam perencanaan sistem informasi akan berakibat pada terhambatnya proses identifikasi input data yang diperlukan sehingga ini berakibat pada tidak cocoknya setting software yang akan digunakan. Bahkan bisa menyebabkan kesalahan dalam pemilihan software sehingga tidak kompatibel dengan kebutuhan sebenarnya.

2.2.3. Penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas

Pengembangan system informasi harus didasarkan pada kebutuhan perusahaan akan system informasi. Organisasi harus mampu untuk memberikan penjabaran mengenai apa yang menjadi kebutuhannya, termasuk spesifikasi dari system yang diinginkan, sehingga dalam pengembagannya system informasi yang ada bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Seringkali pengembangan system informasi gagal karena perusahaan atau organisasi mengembangkan system informasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Ketidaksesuaian berhubungan dengan factor sebelumnya yaitu kurangnya keterlibatan end user.

Tidak selamanya system informasi yang canggih dan mahal akan dapat memenuhi kebutuhan suatu organisasi. Karena kualitas dari system informasi tidak diukur dari mahal atau canggihnya tetapi dari kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan dari end-user.

2.2.4. Perencanaan yang matang

Perusahaan harus realistis dan cermat dalam merancang dan menerapkan sistem informasi dalam penentuan biaya yang wajar terhadap manfaat yang akan diperoleh, agar sistem informasi yang dihasilkannya akan memberikan keuntungan. Dalam perencanaan informasi dibutuhkan kejelasan kebutuhan perusahaan, sehingga pengembangannya berdasarkan sasaran pasar yang dibidik serta media yang sesuai digunakan. Agar SI yang dikembangkan dapat berjalan dan berfungsi dengan baik, maka diperlukan investigasi sistem yang mencakup aspek organisasi, teknis, operasional, ekonomi, dan kebutuhan pengguna. Perencanaan pembangunan SI yang memuat tentang TI direncanakan untuk pencapaian prioritas-prioritas SI, yaitu dengan melakukan definisi permasalahan dan identifikasinya secara rinci mulai dari definisi permasalahan yang dihadapi seperti penciptaan alur data dan informasi yang efisien, prosedur transaksi dan penyajian informasi secara komunikatif pada layar monitor, selanjutnya perlu dirumuskan tentang kasus-kasus bisnis yang ingin diselesaikan dan total investasi TI yang akan disediakan.

2.2.5. Harapan Perusahaan yang Nyata

Harapan perusahaan dari adanya pengembangan dan penerapan harus nyata dan realistis. SI akan dapat memenuhi harapan dari semua pihak jika pengembangan  yang dilakukan mendapatkan dukungan dari semua pihak yang terkait. Kegagalan pengembangan dan penerapan system informasi dapat terjadi karena tidak sesuainya antara hasil pengembangan dengan harapan. Seringkali end-user termasuk menejemen memiliki harapan yang tinggi, tetapi kurang mau untuk ikut serta dalam pengembangan system tersebut, sehingga system informasi yang dihasilkan tidak mampu memunuhi harapan mereka.

2.3.  Perbedaan Pengembangan Software dengan Pengembangan System Informasi

 

2.3.1. Software

Software (perangkat lunak) adalah organisasi dari sekumpulan perintah dan fungsi yang dienkapsulasi dalam bentuk yang dapat dieksekusi oleh komputer. Perangkat lunak (Software) tidak sama dengan program komputer. Perangkat lunak tidak hanya mencakup program, tetapi juga semua dokumentasi dan konfigurasi data yang berhubungan, yang diperlukan untuk membuat agar program beroperasi dengan benar. Sistem Perangkat Lunak terdiri dari : sejumlah program yg terpisah, file-file konfigurasi, dokumentasi sistem, dan dokumentasi User.

2.3.2. Software Engineering

Software engineering merupakan sebuah metodologi pengembangan perangkat lunak (software) yang membahas semua aspek produksi perangkat lunak, mulai dari tahap awal spesifikasi sistem hingga pada tahap pemeliharaan sistem setelah digunakan dengan tujuan untuk membuat perangkat lunak yang tepat dengan metode yang tepat. Tujuan dari pengembangan software adalah untuk memudahkan user (pengguna komputer) dalam mengolah data menjadi informasi. Pengembangan software lebih bersifat aplikasi untuk pengguna akhir dan sangat berkaitan dengan pengguna operasional dan pencapaian keunggulan kompetitif perusahaan. Keunggulan kompetitif perusahaan meliputi keamanan, akses informasi, strategi bisnis dan sarana yang penting bagi semua fungsi bisnis, proses bisnis dalam suatu organisasi serta meningkatkan daya saing perusahaan. Pengembangan sofware memilki ciri ;

1. Fokus pada pengembangan model sistematis dan terpercaya, yang harus dipergunakan sebagai panduan dalam mengembangkan berbagai jenis perangkat lunak.

2.  Selain perangkat lunak aplikasi, mencakup pula pengetahuan mengenai bagaimana membangun sebuah perangkat lunak sistem (system software) dan perangkat lunak penunjang (tool software).

3.  Disamping itu dibekali pula akan ilmu yang terkait dengan seluk beluk infrastruktur di satu sisi, dan sistem informasi di sisi lainnya karena kedua komponen tersebut merupakan entitas penting yang berada dalam ruang lingkup pengembangan perangkat lunak.

2.3.3. System Informasi

Sistem informasi adalah kumpulan antara sub-sub sistem yang saling berhubungan yang membentuk suatu komponen yang didalamnya mencakup input-proses-output yang berhubungan dengan pengolahan informasi (data yang telah dioleh sehingga lebih berguna bagi user). Perangkat lunak (software) hanyalah salah satu bagian dari seluruh kesatuan sistem informasi. Bagian lainnya antara lain adalah user (sumberdaya manusia), hardware (perangkat keras), dan lainnya.

2.3.4. Pengembangan Sistem Informasi

Pengembangan Sistem Informasi didefinisikan sebagai suatu aktivitas untuk menghasilkan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan organisasi atau memanfaatkan kesempatan (opportunity) yang ada sehingga membantu perusahaan untuk meningkatkan penerimaan bagi perusahaan. Pengembangan SI memiliki ciri :

1. Fokus pada teknik mengintegrasikan solusi teknologi informasi dengan proses bisnis agar kebutuhan organisasi akan informasi dapat terpenuhi.

2. Menekankan pada “informasi” sebagai sebuah sumber daya penting dalam berproduksi, terutama dalam kaitannya kebutuhan korporasi dalam pencapaian visi dan misi yang dicanangkan.

3. Mempelajari aspek penting bagaimana “informasi” diciptakan, diproses, dan didistribusikan ke seluruh pemangku kepentingan dalam institusi.

2.3.5. Perbedaan Antara Pengembangan Software Dengan Pengembangan System Informasi

 

Perbedaan yang terlihat jelas antara pengembangan software dengan pengembangan system informasi adalah dalam pengembangan software lebih bersifat aplikasi untuk pengguna akhir dan sangat berkaitan dengan pengguna operasional dan pencapaian keunggulan kompetitif perusahaan. Berkaitan dengan keunggulan kompetitif perusahaan, meliputi keamanan, akses informasi, strategi bisnis dan sarana yang penting bagi semua fungsi bisnis, proses bisnis dalam suatu organisasi serta meningkatkan daya saing perusahaan.

Dalam pengembangan sistem informasi, organisasi harus mampu melakukan perubahan yang mendasar baik terkait dengan perubahan, kebijakan, struktur organisasi, perubahan lingkungan, perubahan hubungan antara user dengan sistem informasi, proses dan peralatan, serta mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi.

 

 

2.4. Alasan umum pemilihan outsourcing dalam pengembangan dan penerapan system informasi dan kekurangan dan kelebihan outsourcing dibandingkan dengan insourcing.

Menurut O’Brien dan Marakas (2010) dalam bukunya “Introduction to Information Systems”, istilah outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga. Sedangkan Insourcing atau Contracting merupakan delegasi dari suatu pekerjaan ke pihak yang ahli (spesialis TI) dalam bidang tersebut dalam suatu perusahaan. Saat ini banyak perusahaan yang mulai beralih dari insourcing ke outsourcing dalam pengembangan system informasinya.

2.4.1. Beberapa Alasan Strategis Mengapa  Suatu Perusahaan Melakukan Outsourcing

 

1. Meningkatkan fokus bisnis perusahaan

Penggunaan outsourcing memungkinkan bagi perusahaan untuk lebih focus kepada apa yang menjadi inti dari bisnis perusahaan tersebut. Focus lebih ini didapatkan karena perusahaan menyerahkan sebagian kecil kegiatan operasional yang bukan core bisnis kepada pihak lain. Dengan peningkatan focus tersebut diharapkan mampu menghasilkan keunggukan komparatif yang lebih besar dan mempercepat pengembangan perusahaan

2. Membagi risiko operasional

Penggunaan outsourcing akan mengurangi biaya investasi, dimana setiap investasi mengandung resiko. Apabila semua investasi dilakukan sendiri maka seluruh resiko juga ditanggung sendiri. Apabila beberapa aktivitas perusahaan dikontrakkan kepada pihak ketiga maka resiko akan ditanggung bersama pula. Selain itu outsourcing juga memberikan fleksibelitas bagi perusahaan untuk merubah system informasinya sesuai dengan perkembangan jaman.

3. Sumber daya perusahaan dapat dialokasi untuk kebutuhan yang lainnya.

Outsourcing memungkinkan perusahaan untuk menghemat sumberdaya yang dimiliki. Perusahaan tidak perlu mengeluarkan atau menggunakan sumber daya terlalu banyak untuk pengembangan system informasi, karena pekerjaan system informasi telah dikerjkan oleh pihak lain. Dengan demikian sumberdaya yang seharusnya dialokasikan kepada pengembangan system informasi dapat dialokasikan kepada kegiatan operasional perusahaan yang menjadi core business dari perusahaan tersebut.

4. Mengurangi dan mengendalikan biaya

Perusahaan outsourcing memiliki economics of scale yang lebih besar dalam pengembangan system informasi karena pengembangan system informasi merupakan core business dari perusahaan pengembang. Oleh karena itu mereka mampu untuk memberikan harga yang mungkin lebih murah dibandingkan jika perusahaan harus mengembangkan system informasi sendiri. Dengan mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan dengan mengembangkan sendiri maka perusahaan mampu untuk mengurangi dan mengendalikan biaya untuk pengembangan system informasi.

5. Meningkatkan tersedianya dana kapital

Outsourcing juga bermanfaat untuk mengurangi investasi dana kapital kegiatan non core. Sebagai ganti dari melakukan investasi di bidang kagiatan tersebut, lebih baik mengontrakkan sesuai dengan kebutuhan yang dibiayai dengan dana operasi, bukan dana investasi. Dengan demikian, dana kapital dapat digunakan pada aktivitas yang lebih bersifat umum. Dalam banyak hal, dana kapital sering kali mahal, terbatas, dan diperebutkan antar perusahaan atau pun antar aktivitas. Oleh karena itu, menjadi tugas pimpinan perusahaan untuk memanfaatkan sebaik-baiknya. Kebutuhan-kebutuhan seperti alat-alat transpor, alat-alat komputer dan gedung perkantoran, sering kali lebih baik dan lebih murah kalau disewa dan tidak dibeli, serta dilakukan invstasi sendiri.

6. Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki sendiri

Perusahaan dapat melakukan outsourcing untuk suatu aktivitas tertentu karena perusahaan tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tersebut secara baik dan memadai

7. Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan atau dikelola

Outsourcing dapat juga digunakan utnuk mengatasi pengelolaan hal atau mengawasi fungsi yang sulit dikendalikan. Fungsi yang sulit dikelola dan dikendalikan ini, misalnya birokrasi ekstern yang sangat berbelit yang harus ditaati oleh perusahaan yang dimiliki negara dalam menjalankan fungsi pembelian barang dan jasa, yang sulit ditembus denga cara-cara biasa. Hal ini mungkin dapat dipecahkan dengan mengontrakkan seluruh pekerjaan tersebut pada pihak ketiga yang berbentuk swasta, yang tidak terikat pada birokrasi tertentu.

8. Kontrol yang lebih baik

Dengan adanya outsourcing maka perusahaan bisa lebih baik mengontrol operasional perusahaannya. Hasilnya akan membuat bisnis perusahaan menjadi berjalan lancar, efektif dan efisien.

2.4.2. Keuntungan Pengembangan Sistem Informasi secara Outsourcing Dibandingkan dengan Insourcing

1. Perusahaan bisa fokus pada kompetensi inti dan nilai strategisnya.

2.  Mendapatkan kepakaran yang lebih baik dan teknologi yang lebih maju. 

3. Menghemat biaya dan waktu pengembangan.

4. Menghilangkan penyediaan sarana saat beban puncak terjadi (yakni ketika terjadi masa-masa pembeli membanjir) dan cukup melakukan pengeluaran biaya sesuai dengan tambahan layanan yang diberikan oleh pihak luar.

2.4.3. Kelemahan Pengembangan Sistem Informasi secara Outsourcing Dibandingkan dengan Insourcing

1.  Ancaman terjadinya kebocoran data penting perusahaan (Kehilangan kendali terhadap sistem dan data karena bisa saja pihak outsourcer menjual data ke pesaing).

2. Penghentian kerjasama selama masa kontrak akan mengakibatkan perusahaan tidak dapat memakai system tersebut, yang berarti terganggunya proses bisnis.

3. Hasil yang kurang maksimal karena pengembang memiliki banyak klien

4. Menjadi sangat bergantung pada pihak luar

5. Besar kemungkinan terjadi ketidakpuasan pada pihak klien (perusahaan) terhadap hasil pengembangan system informasi yang dilakukan oleh pihak pengembang. Hal ini dapat disebabkan karena komunikasi yang kurang baik antara kedua belah pihak, satu pihak menggunkan bahasa bisnis dan tidak mengetahui bahasa computer dilain pihak berkomunikasi menggunakan bahasa computer dan kurang memahami bahasa bisnis.

2.5.1.  Penyebab Kesalahan dalam Konversi System Informasi

Fenomena kesalahan dalam konversi sistem informasi dapat terjadi apabila proses konversi tersebut tidak diawali dengan langkah-langkah sebelum melakukan proses konversi, beberapa langkah awal yang harus dilakukan adalah:

-   Proses perencanaan dan permodelan, meliputi analisa kebutuhan dan design.

-    Konstruksi, meliputi penyusunan kode dan pengujian

-  Pemrograman dan pengetesan perangkat lunak (software), meliputi kegiatan : Developmental (error testing per modul oleh programmer), Alpha testing (error testing ketika sistem digabungkan dengan interface user oleh software tester), dan Beta testing (testing dengan lingkungan dan data sebenarnya). 

Selain dari kurangnya persiapan langkah awal, Fenomena kegagalan pada konversi system informasi juga dapat terjadi karena hal-hal berikut:

1. Sistem yang dikembangkan tidak atau kurang sesuai dengan keinginan user, karena  proses investigasi, analisa design sistem yang dikembangkan kurang tajam.

2. Adanya perilaku yang cenderung menolak atau sulit menerima setiap perubahan dalam organisasi perusahaan, khususnya yang sistem informasi baru yang memerlukan peningkatan pengetahun dan keterampilan.

3. Adanya kekhawatiran dari karyawan perusahaan apabila sistem informasi baru (komputerisasi) diimplementasikan akan terjadi ‘lay-off’ karyawan perusahaan. (pengurangan pegawai).

4. Tidak dibarengi dengan ‘business re-engineering process’, sehingga sistem komputerisasi kurang memberikan dampak effisiensi dan efektivitas yang maksimal bagi perusahaan.

 5.  Perencanaan aktivitas implementasi tidak dipersiapkan secara comprehensive dan integrated yang meliputi aktivitas :
• Hardware, software and services acquisition

• Software development or modification

• End user training

• System documentation & Conversion methode : pilot project, paralllel cut-over, phase-in cut over, direct cut over (plunge).

2.5.2. Metode Konversi Sistem

2.5.2.1. Konversi Langsung (Direct Conversion/Plunge Strategy)

Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru. Cara ini merupakan yang paling berisiko, tetapi murah. Konversi langsung adalah pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama,sehingga apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama. Pendekatan sesuai untuk kondisi-kondisi sebagai berikut:

  1. Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain.
  2. Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai.
  3. Sistem yang baru bersifat kecil atau sederhana atau keduanya.
  4. Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem – sistem tersebut tidak berarti.

Kelebihan    : Relatif tidak mahal.

Kelemahan   : Mempunyai risiko kegagalan yang tinggi.

Berikut ini merupakan ilustrasi konversi langsung :

 
   

 

2.5.2.2. Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman, tetapi merupakan cara yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua system sekaligus. Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa période waktu.

Kelebihan : Memberikan derajat proteksi yang tinggi kepada organisasi dari kegagalan sistem baru.

Kelemahan : Besarnya biaya untuk duplikasian fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.

Berikut ini  merupakan ilustrasi konversi paralel :

 
   

 

2.5.2.3. Konversi Bertahap (Phased Conversion)

Konversi bertahap dilakukan dengan menggantikan suatu bagian dari sistem lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Dengan metode phased conversion, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, dan secara perlahan menggantikan sistem lama. Konversi bertahap dapat menghindarkan risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk beradaptasi terhadap perubahan. Untuk menggunakan metode phased conversion, sistem harus disegmentasi.

Kelebihan : Kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi, dan sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama période waktu yang luas.

Kelemahan : Keperluan biaya yang diadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat, sebab orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.

Berikut ini merupakan ilustrasi konversi bertahap :

2.5.2.4. Konversi Pilot (Pilot Conversion)

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah. Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasi yang mencoba mengembangkan sistem baru.

Kelebihan :      Risiko lebih kecil dibanding konversi langsung, lebih murah daripada konversi paralel, koreksi kesalahan dapat dilakukan sebelum implementasi.

Kelemahan :   Membutuhkan area dari operasi untuk uji coba.

Berikut ini ilustrasi konversi pilot :

2.5.3. Cara untuk menghindari kesalahan dalam konversi system infomasi

Kondisi perusahaan maupun organisasi yang terus berkembang menuntut dukungan system informasi yang harus selalu dimutakhirkan, oleh karena itu perubahan system dari system yang lama ke system yang baru meskipun beresiko harus tetap dilakukan agar aktivitas perusahaan dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena  perubahan pasti terjadi, perusahaan haruslah mampu untuk menghidari  kesalahan yang umum terjadi dalam konversi sistem (sistem lama ke sistem baru). Beberapa cara  yang dapat dilakukan oleh perusahaan agar terhindar dari kesalahan umum dalam konversi system adalah  dalam suatu organisasi dapat dilakukan beberapa cara berikut (beserta asumsi) :

  1. Perusahaan harus mengkaji ulang visi, misi, serta tujuan yang akan dicapai serta mempelajari implementasi yang belum optimal
  2. Pelatihan sumber daya manusia (SDM) agar mampu menjalankan dan mengoptimalkan fungsi dari sistem informasi baru yang diterapkan.
  3. Pemimpin perusahaan harus mengetahui dan mengerti mengenai pentingnya penerapan sistem baru di perusahaan sehingga memberikan perhatian terhadap implementasi sistem baru tersebut di perusahaan.
  4. Perusahaan harus memberikan perhatian terhadap bagian pengolahan informasi, sehingga karir pada bagian ini jelas, hal ini dapat merangsang karyawan agar mau ditempatkan pada bagian tersebut.
  5. Harus menciptakan sinergisme diantara subsistem-subsistem yang mendukung pengoperasian sistem sehingga akan terjadi kerjasama.
  6. Perusahaan perlu menyediakan prosedur dalam mengaplikasikan sistem baru, dengan asumsi tidak semua SDM bersangkutan dapat cepat tanggap.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hartono, Jogiyanto. 2003. Sistem Teknologi Informasi, Pendekatan Terintegrasi: Konsep Dasar, Tekonologi, Aplikasi, Pengembangan dan Pengelolaan. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Marimin, Hendri Tanjung, Haryo Prabowo. 2006. Sistem Informasi Manajemen; Sumber Daya Manusia. PT Grasindo. Jakarta

McLeod Jr Raymond, George Schell.2004. Management Information Systems 8/e. Prentice-Hall, Inc. New Jersey.

O’Brien. J. 2005. Pengantar Sistem Informasi Perspektif Bisnis dan Manajerial. Edisi 12. Salemba Empat. Jakarta.

Sutedjo, Budi. 2002. Perencanaan & Pembangunan Sistem Informasi.Penerbit Andi. Yogyakarta

https://docs.google.com/present/view?id=dk422md_378hcfhn3cz

http://nda-aping.blogspot.com/2009/12/kegunaan-atau-fungsi-sim-pada.html

http://upi0700004.blog.upi.edu/2009/06/19/peranan-sistem-informasi-dalam-pengambilan-keputusan-untuk-promosi-di-perusahaan-nabisco-2/comment-page-2/#comment-2772

http://hendrawan28.wordpress.com/2009/04/30/pemanfaatan-sistem-perencanaan-sumber daya-erp-pada-perusahaan-pakan-ternak-charoen-pokphan-indonesia/

http://chanisia.wordpress.com/2010/01/01/sistem-informasi-pada perusahaan/

METODE PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERUSAHAAN (INSOURCING, OUTSOURCING, CO SOURCING)

  • December 3, 2010 8:43 pm

METODE PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERUSAHAAN (INSOURCING, OUTSOURCING, CO SOURCING)

Persaingan yang semakin ketat dalam dunia bisnis dan usaha – terutama di zaman yang semakin modern ini – mendorong setiap perusahaan untuk lebih kreatif dan mampu mengelola bisnisnya secara lebih baik. Tujuan pengelolaan ini adalah agar perusahaan dapat lebih bersaing di pasaran. Perusahaan dapat meningkatkan kemampuannya dengan mengembangkan sistem informasi sesuai dengan kemajuan teknologi yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dalam persaingan yang semakin ketat, informasi menjadi salah satu sumberdaya yang harus dikelola secara baik sehingga dapat menciptakan nilai tambah bagi organisasi. Sistem informasi merupakan seperangkat alat, data, dan prosedur yang bekerja secara bersama-sama untuk memberikan hasil berupa informasi yang berguna. Informasi yang berguna adalah informasi yang akurat, tepat waktu, relevan dan valid sehingga dalam pengambilan yang didukung oleh informasi tersebut didapatkan keputusan yang tepat yang dapat mencapai sasaran yang telah direncanakan. Terdapat tiga alasan mendasar penerapan system informasi dalam sebuah perusahaan yaitu mendukung proses dan operasi bisnis, mendukung pengambilan keputusan para pegawai dan manajernya, mendukung berbagai strategi untuk keunggulan kompetitif.

Pentingnya peran SI dalam sebuah perusahaan membuat setiap perusahan harus memiliki system informasi yang baik agar dapat mendukung bisnis dari perusahaan tersebut, tetapi tidak semua perusahaan melakukan pengembangan system informasinya sendiri, karena berbagai alasan. Pada dasarnya    Pengembangan system informasi sebuah perusahaan dapat melakukannya melalui tiga metode yaitu insourcing, outsourcing dan co-sourcing. Ketiga metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam membangun system informasi sebuah perusahaan. Begitu pula dengan alasan pemilihan metode pengembangan yang dilakukan oleh perusahaan yang juga harus memperhatikan kebutuhan dan kondisi perusahaannnya. Berikut ini akan dibahas mengenai kelebihan dan kekurangan serta alasan perusahaan dalam pemilihan metode pengembangan system informasinya.

OUTSOURCING

 

Menurut O’Brien dan Marakas (2010) dalam bukunya “Introduction to Information Systems”, istilah outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga. Dalam kaitannya dengan TI, outsorcing digunakan untuk menjangkau fungsi TI secara luas dengan mengontrak penyedia layangan eksternal. Outsourcing TI juga dapat diterjemahkan sebagai penyediaan tenaga ahli yang profesional di bidang TI untuk mendukung dan memberikan solusi guna meningkatkan kinerja perusahaan. Hal ini dikarenakan sering kali suatu perusahaan mengalami kesulitan untuk menyediakan tenaga TI yang berkompeten dalam mengatasi kendala-kendala TI maupun operasional kantor sehari-hari (www.midas-solusi.com). Jadi, outsourcing adalah pemberian sebagian pekerjaan yang tidak bersifat rutin (temporer) dan bukan inti perkerjaan di sebuah organisasi/perusahaan ke pihak lain atau pihak ketiga.

Aplikasi IT outsourcing di suatu perusahaan antara lain mencakup layanan sebagai berikut:

  • Pemeliharaan aplikasi (Applications maintenance)
  • Pengembangan dan implementasi aplikasi (Application development and implementation)
  • Data centre operations
  • End-user support
  • Help desk
  • Dukungan teknis (Technical support)
  • Perancangan dan desain jaringan
  • Network operations
  • Systems analysis and design
  • Business analysis
  • Systems and technical strategy

 

Penerapan metode outsoucing memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat dilihat dalam table berikut:

Kelebihan Kekurangan
  1. Biaya menjadi lebih murah karena perusahaan tidak perlu membangun sendiri fasilitas SI dan TI.
  2. Memiliki akses ke jaringan para ahli dan profesional dalam bidang SI/TI.
  3. Perusahaan dapat mengkonsentrasikan diri dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis intinya, karena bisnis non-inti telah didelegasikan pengerjaannya melalui outsourcing.
  4. Dapat mengeksploitasi skill dan kepandaian dari perusahaan outsource dalam mengembangkan produk yang diinginkan perusahaan.
  5. Mempersingkat waktu proses karena beberapa outsourcer dapat dipilih sekaligus untuk saling bekerja sama menyediakan layanan yang dibutuhkan perusahaan.
  6. Fleksibel dalam merespon perubahan SI yang cepat sehingga perubahan arsitektur SI berikut sumberdayanya lebih mudah dilakukan karena perusahaan outsource SI pasti memiliki pekerja TI yang kompeten dan memiliki skill yang tinggi, serta penerapan teknologi terbaru dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaan outsource.
  7. Meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan atau tidak melakukan investasi.

 

  1. Kehilangan kendali terhadap SI dan data karena bisa saja pihak outsourcer menjual data dan informasi perusahaan ke pesaing.
  2. Adanya perbedaan kompensasi dan manfaat antara tenaga kerja internal dengan tenaga kerja outsourcing.
  3. Mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan karena pihak outsourcer tidak dapat diharapkan untuk menyediakan semua kebutuhan perusahaan karena harus memikirkan klien lainnya juga.
  4. Jika menandatangani kontrak outsourcing yang berjangka lebih dari 3 tahun, maka dapat mengurangi fleksibilitas seandainya kebutuhan bisnis berubah atau perkembangan teknologi yang menciptakan peluang baru dan adanya penurunan harga, maka perusahaan harus merundingkan kembali kontraknya dengan pihak outsourcer.
  5. Ketergantungan dengan perusahaan pengembang SI akan terbentuk karena perusahaan kurang memahami SI/TI yang dikembangkan pihak outsourcer sehingga sulit untuk mengembangkan atau melakukan inovasi secara internal di masa mendatang.

 

 

Dari kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh outsoucing munculk berbagai pertimbangan kenapa suatu perusahan memilih metode ini. Menurut Rahardjo (2006), outsourcing sudah tidak dapat dihindari lagi oleh perusahaan. Berbagai manfaat dapat dipetik dari melakukan outsourcing, seperti penghematan biaya (cost saving), perusahaan bisa memfokuskan diri pada kegiatan utamanya (core business), dan akses pada sumber daya (resources) yang tidak dimiliki oleh perusahaan. Alasan yang sama juga dikemukakan dalam www.outsource2india.com dimana kebanyakan organisasi memilih outsourcing karena mendapatkan keuntungan dari biaya rendah (lower costs) dan layanan berkualitas tinggi (high-quality services). Selain itu, outsourcing juga dapat membantu organisasi dalam memanfaatkan penggunaan sumber daya, waktu dan infrastruktur mereka dengan lebih baik. Outsourcing juga memungkinkan organisasi untuk mengakses modal intelektual, berfokus pada kompetensi inti, mempersingkat waktu siklus pengiriman dan mengurangi biaya secara signifikan. Dengan demikian, organisasi akan merasa outsourcing merupakan strategi bisnis yang efektif untuk membantu meningkatkan bisnis mereka.

Dalam outsourcing, outsourcer dan mitra outsourcing-nya memiliki hubungan yang lebih besar jika dibandingkan dengan hubungan antara pembeli dan penjual. Hal ini dikarenakan outsourcer mempercayakan informasi penting perusahaan kepada mitra outsourcing-nya. Salah satu kunci kesuksesan dari outsource adalah kesepakatan untuk membuat hubungan jangka panjang (long term relationship) tidak hanya kepada proyek jangka dekat. Alasannya sangat sederhana, yaitu outsourcer harus memahami proses bisnis dari perusahaan. Perusahaan juga akan menjadi sedikit tergantung kepada outsourcer (Rahardjo, 2006). Saat ini, outsourcing tidak lagi terbatas pada outsourcing layanan TI tetapi  juga sudah merambah ke bidang jasa keuangan, jasa rekayasa, jasa kreatif, layanan entry data dan masih banyak lagi.

INSOURCING

Insourcing adalah mengoptimalkan karyawan dalam perusahaan untuk dipekerjakan di luar perusahaan berdasarkan kompetensi dan minat karyawan itu sendiri dan difasilitasi oleh perusahaannya. Insourcing bisa dalam bentuk bekerja di luar perusahaan secara fulltime, fifty-fifty atau temporary. Kompensasi yang diterima juga mengikuti pola tersebut. Artinya mereka akan dibayar secara penuh oleh perusahaan yang menggunakannya, atau sharing dengan perusahaan asalnya atau perusahaan asal hanya menanggung selisih gaji (Zilmahram, 2009). Insourcing juga dapat didefinisikan sebagai transfer pekerjaan dari satu organisasi ke organisasi lain yang terdapat di dalam negara yang sama. Selain itu, Insourcing dapat pula diartikan dengan suatu organisasi yang membangun fasilitas atau sentra bisnis baru yang mengkhususkan diri pada layanan atau produk tertentu (en.wikipedia.org). Dalam kaitannya dengan TI, Insourcing atau Contracting merupakan delegasi dari suatu pekerjaan ke pihak yang ahli (spesialis TI) dalam bidang tersebut dalam suatu perusahaan.

Keunggulan insourcing antara lain:

  1. Sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan serta dokumentasi yang disertakan lebih lengkap.
  1. Biaya pengembangannya relatif lebih murah karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  2. Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera direalisasikan dan dapat segera dilakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut.
  3. Mudah untuk melakukan modifikasi dan pemeliharaan (maintenance) terhadap sistem informasi karena proses pengembangannya dilakukan oleh karyawan perusahaan tersebut.
  4. Adanya insentif tambahan bagi karyawan yang diberi tanggung jawab untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan tersebut.
  5. Lebih mudah melakukan pengawasan (security access) dan keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  6. Sistem informasi yang dikembangkan dapat diintegrasikan dengan lebih mudah dan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada.
  7. Proses pengembangan sistem dapat dikelola dan dikontrol.
  8. Dapat dijadikan sebagai keunggulan kompetitif sebab sekaligus menunjukkan kemandirian dalam berusaha dan menambah rasa percaya diri perusahaan akan kemampuannya.
  9. Rasa ikut memiliki yang dimiliki oleh pihak karyawan sehingga dapat mendukung pengembangan sistem yang sedang dijalankan dan tidak adanya konflik kepentingan bila dibandingkan dengan outsourcing.
  10. Cocok untuk pengembangan sistem dan proyek yang kompleks
  11. Kedekatan departemen yang mengelola sistem informasi dengan end-user sehingga akan mempermudah dalam mengembangkan sistem sesuai dengan harapan.
  12. Pengambilan keputusan yang dapat dikendalikan oleh perusahaan sendiri tanpa adanya intervensi dari pihak luar
  • Kelemahan insourcing adalah :
  1. Keterbatasan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.
  1. Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmer sehingga ada konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan.
  2. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin sehari-hari sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.
  3. Adanya demotivasi dari karyawan ditugaskan untuk mengembangkan sistem informasi karena bukan merupakan core competency pekerjaan mereka.
  4. Perubahan dalam teknologi informasi terjadi secara cepat dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih (tidak up to date).
  5. Kurangnya tenaga ahli (expert) di bidang sistem informasi dapat menyebabkan kesalahan persepsi dalam pengembangan distem dan kesalahan/resiko yang terjadi menjadi tanggung jawab perusahaan (ditanggung sendiri).
  6. Perlu waktu yang lama untuk mengembangkan sistem karena harus dimulai dari nol.
  7. Kesulitan para pemakai dalam menyatakan kebutuhan dan kesukaran pengembangan memahami mereka dan seringkali hal ini membuat para pengembang merasa putus asa.
  8. Batasan biaya dan waktu yang tidak jelas karena tidak adanya target yang ditetapkan sehingga sulit untuk diprediksi oleh perusahaan.
  9. Perubahan budaya yang sulit jika diatur oleh karyawannya sendiri.

Organisasi biasanya memilih untuk melakukan insourcing antara lain dalam rangka mengurangi biaya tenaga kerja dan pajak. Organisasi yang tidak puas dengan outsourcing kemudian memilih insourcing sebagai penggantinya. Beberapa organisasi merasa bahwa dengan insourcing mereka dapat memiliki dukungan pelanggan yang lebih baik dan kontrol yang lebih baik atas pekerjaan mereka daripada dengan meng-outsourcing-nya (www.outsource2india.com).

CO-SOURCING

Co-sourcing adalah sebuah model pengembangan sistem informasi yang melibatkan staf dari dalam perusahaan dan penyedia layanan eksternal. Perusahaan dan penyedia layanan eksternal memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun, menyediakan dan mengoperasikan sistem informasi. Model ini melibatkan tugas-tugas outsourcing tertentu.

Pemilihan metode co-sourcing oleh suatu perusahaan pada dasarnya dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan bisnis suatu perusahaan dimana pada satu sisi perusahaan dihadapkan pada adanya keterbatasan SDM internal baik kuantitas maupun kualitas knowledge yang dimilikinya dalam menangani system informasi manajemen tersebut secara efektif dan efisien. Di sisi lain, perusahaan menginginkan adanya kontrol dan pengawasan terhadap sistem informasi yang akan dikembangkan tersebut. Pola kerjasama penyediaan IT dengan cosourcing yaitu:

  1. Perusahaan dan penyedia jasa IT berbagi sumberdaya bersama. Penyedia jasa IT dapat menyediakan tenaga ahli dan teknologi sedangkan perusahaan menyediakan ruangan dan fasilitas lain
  2. Hubungan kerjasama yang terjadi sangat bervariasi. Penyedia jasa bisa saja bekerja dalam periode yang tidak ditentukan bahkan sewaktu-waktu bisa bergabung dengan perusahaan klien.

 

  • Kelebihan dari metode co-sourcing
  1. Umumnya sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan karena karyawan yang ditugaskan mengerti kebutuhan sistem dalam perusahaan.
  2. Biaya pengembangannya relatif lebih rendah karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  3. Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera direalisasikan dan dapat segera melakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut.
  4. Sistem informasi yang dibangun sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan dan dokumentasi yang disertakan lebih lengkap.
  5. Mudah untuk melakukan modifikasi dan pemeliharaan (maintenance) terhadap sistem informasi karena proses pengembangannya dilakukan oleh karyawan perusahaan tersebut.
  6. Adanya insentif tambahan bagi karyawan yang diberi tanggung jawab untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan tersebut.
  7. Lebih mudah melakukan pengawasan (security access) dan keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan. Sistem informasi yang dikembangkan dapat diintegrasikan lebih mudah dan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada.
  • Kekurangan dari metode co-sourcing
  1. Keterbatasan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.
    1. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin sehari-hari sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.
    2. Perubahan dalam teknologi informasi terjadi secara cepat dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih (tidak up to date).
    3. Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmer sehingga ada konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan.
    4. Adanya demotivasi dari karyawan ditugaskan untuk mengembangkan sistem informasi karena bukan merupakan core competency pekerjaan mereka.

Beberapa alasan yang mendasari pemilihan metode co-sourcing oleh perusahaan :

  1. 1.      Perusahaan menginginkan pengawasan langsung untuk membangun fitur dan fungsi sistem informasi
  2. 2.      Perusahaan ingin tetap mempertahankan pengetahuan korporasi
  3. 3.      Perusahaan menginginkan adanya win-win relationship dengan partner yang berkompeten dan mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan
  4. 4.      Perusahaan menginginkan pengetahuan SI menjadi bagian dari pengetahuan perusahaan
  5. 5.      Tidak keberatan dengan adanya negosiasi ulang biaya pengembangan sistem informasi seiring dengan perubahan lingkungan bisnis dan teknologi yang cepat
  6. 6.      Perusahaan membutuhkan aksi yang efektif, cepat dan fleksibel terhadap strategi bisnisnya
  7. 7.      Perusahaan membutuhkan perbaikan dan peningkatan sistem yang berkelanjutan
  8. 8.      Perusahaan menginginkan biaya tetap dapat diprediksi dengan baik

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.outsource2india.com/why_india/articles/outsourcing-versus-insourcing.asp.

_______. Outsourcing. http://en.wikipedia.org/wiki/Outsourcing.

_______. IT Outsourcing. http://www.midas-solusi.com/products-services,en,detail,9,it-outsourcing

O’Brien, J. A. and G. M. Marakas. 2010. Introduction to Information Systems, fifteenth edition. The McGraw-Hill Companies, Inc.

Pasaribu, F.T.P. 2010. Outsourcing, Insourcing, dan Selfsourcing. http://ferry1002.blog. binusian.org/?p=128.

Rahardjo, B. 2006. Kesulitan Outsourcing di Indonesia. http://rahard.wordpress.com/2006/ 02/25/kesulitan-outsourcing-di-indonesia/.

Zilmahram, T. 2009. Outsourcing dan Insourcing. http://habahate.blogspot.com/2009/06/ outsourcing-dan-insourcing.html

No Title

  • June 16, 2010 3:35 pm

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PROCESSOR KOMPUTER

Teguh Purwadi

  1. A. Pengertian Processor

Processor adalah otak (CORE) dari sebuah komputer, semua perintah akan diproses proses yang dilakukan dengan sistem bergantian. Biasa disebut CPU, processor membaca intruksi dari memory tentang apa yang harus dilakukannya dan mengeksekusinya. Processor dibuat dengan teknologi silicone, isi dari processor adalah chip, transitor, dan komponen elektronik lainnya yang jumlahnya bisa mencapai jutaaan. Teknologi saat ini menggunakan ketebalan silicone setebal 0,13 micron. Semakin Tipis akan semakin mengurangi panas, power yang kecil, dan peningkatan kinerja yang signifikan karena lebih banyak teknologi yang ditanam.

  1. B. KecepatanProcessor

Kecepatan processor dihitung dalam satuan Hertz (Hz). Saat ini telah mencapai GHz. AMD dengan menggunakan PR rating contoh pada  AMD Sempron 2200+, tidak berjalan pd 2200 tapi 1500 Mhz. Ekivalen dengan 2200Mhz nya Processor Intel.

  1. C. FSB.

FSB (Front Side Bus) adalah Saluran data antara processor dan chipset main controller. Contoh pada  Intel P 4 mendukung FSB 800 Mhz diletakan pd MB FSB 533Mhz, maka akan bottleneck. Teknologi Intel = 800 Mhz dan 1066 Mhz. Teknologi AMD = 2000 Mhz full duplex.

  1. D. Cache Memory

Cache Memory Sebagai buffer sementara sebelum dieksekusi processor. Biasanya Level 1(L1) dan Level 2(L2). Semakin besar cache semakin baik. Contoh pada Intel Pentium 4 2,8C Ghz, FSB 800, 0.13 Micron, L2 Cache 512 KB.

  1. E. Peranan Processor

Processor merupakan bagian sangat penting dari sebuah komputer, yang berfungsi sebagai otak dari komputer. Tanpa processor komputer hanyalah sebuah mesin dungu yang tak bisa apa-apa. Processor yang kita pakai saat ini sudah sangat cepat sekali. Tentu saja untuk mencapai kecepatan sampai saat ini processor tersebut mengalami perkembangan. Nah berikut perkembangan processor mulai dari generasi 4004 microprocessor yang di pakai pada mesin penghitung Busicom sampai dengan intel Quad-core Xeon. Perkembangan processor diawali oleh processor intel pada saat itu hanya satu² nya microprocessor yang ada. Tetapi pada saat ini sudah banyak beredar processor dari produsen yang lain, sehingga user sudah bisa mendapatkan processor yang beragam.

  1. F. Perkembangan  Processor

Berikut ini diuraikan bermacam-macam processor berdasarkan tahun dan perusahaan pembuatnya, yang menggambarkan perkembangan processor computer didunia dari pertama kali processor dibuat secara massal hingga saat ini.

  1. Microprocessor 4004 (1971)

Processor di awali pada tahun 1971 dimana intel mengeluarkan processor pertamanya yang di pakai pada mesin penghitung buscom. Ini adalah penemuan yang memulai memasukan system cerdas kedalam mesin. Processor ini dinamakan microprocessor 4004. Chip intel 4004 ini mengawali perkembangan CPU dengan mempelopori peletakan seluruh komponen mesin hitung dalam satu IC. Pada saat ini IC mengerjakan satu tugas saja.

  1. Microprocessor 8008 (1972)

Pada tahun 1972 intel mengeluarkan microprocessor 8008 yang berkecepatan hitung 2 kali lipat dari MP sebelumnya. MP ini adalah mp 8 bit pertama. Mp ini juga di desain untuk mengerjakan satu pekerjaan saja.

  1. Microprocessor 8080 (1974)

Pada tahun 1974 intel kembali mengeluarkan mp terbaru dengan seri 8080. Pada seri ini intel melakukan perubahan dari mp multivoltage menjadi triple voltage, teknologi yang di pakai NMOS, lebih cepat dari seri sebelumnya yang memakai teknologi PMOS. Mp ini adalah otak pertama bagi komputer yang bernama altair.Pada saat ini pengalamatan memory sudah sampai 64 kilobyte. Kecepatanya sampai 10X mp sebelumnya.Tahun ini juga muncul mp dari produsen lain seperti MC6800 dari Motorola -1974, Z80 dari Zilog -1976 (merupakan dua rival berat), dan prosessor2 lain seri 6500 buatan MOST, Rockwell, Hyundai, WDC, NCR dst.

  1. Microprocessor 8086 (1978)

Processor 8086 adalah cpu pertama 16 bit. Tetapi pada saat ini masih banyak di gunakan mainboard sandard 8 bit, karena motherboard 16bit merupakan hal yang mahal. Akhir nya pada tahun 1979 intel merancang ulang processor ini sehingga compatible dengan mainboard 8 bit yang di beri nama 8088 tetapi secara logika bisa di namakan 8086sx. Perusahan komputer IBM menggunakan processor 8086sx ini untuk komputernya karena lebih murah dari harga 8086, dan juga bisa menggunakan mainboard bekas dari processor 8080. Teknologi yang di gunakan pada processor ini juga berbeda dari seri 8080, dimana pada seri 8086 dan 8086sx intel menggunakan teknologi HMOS.

  1. Microprocessor 286 (1982)

Processor Intel 286 atau yang lebih dikenal dengan nama 80286 adalah sebuah processor yang pertama kali dapat mengenali dan menggunakan software yang digunakan untuk processor sebelumnya. 286 (1982) juga merupakan prosessor 16 bit.Prosessor ini mempunyai kemajuan yang relatif besar dibanding chip-chip generasi pertama.Frekuensi clock ditingkatkan, tetapi perbaikan yang utama ialah optimasi penanganan perintah.286 menghasilkan kerja lebih banyak tiap tik clock daripada 8088/8086. Pada kecepatan awal (6 MHz) berunjuk kerja empat kali lebih baik dari 8086 pada 4.77 MHz. Belakangan diperkenalkan dengan kecepatan clock 8,10,dan 12 MHz yang digunakan pada IBM PC-AT (1984). Pembaharuan yang lain ialah kemampuan untuk bekerja pada protected mode/mode perlindungan – mode kerja baru dengan “24 bit virtual address mode”/mode pengalamatan virtual 24 bit, yang menegaskan arah perpindahan dari DOS ke Windows dan multitasking. Tetapi anda tidak dapat berganti dari protected kembali ke real mode / mode riil tanpa mere-boot PC, dan sistem operasi yang menggunakan hal ini hanyalah OS/2 saat itu.

  1. Processor 80386

Processor 80386 merupakan CPU 32 bit pertama. Prosessor ini dapat mengalamati memori hingga 4 GB dan mempunyai cara pengalamatan yang lebih baik daripada 286. 386 bekerja pada kecepatan clock 16,20 dan 33 MHz. Belakangan Cyrix dan AMD membuat clones/tiruan-tiruan yang bekerja pada 40 MHz. 386 mengenalkan mode kerja baru yaitu virtual 8086 yang terbuka untuk multitasking karena CPU dapat membuat beberapa 8086 virtual di tiap lokasi memorinya sendiri-sendiri.

  1. Processor 80486 DX

Processor 80486 dikeluarkan 10 April 1989 dan bekerja dua kali lebih cepat dari pendahulunya. Hal ini dapat terjadi karena penanganan perintah-perintah x86 yang lebih cepat, lebih-lebih pada mode RISC. Pada saat yang sama kecepatan bus dinaikkan, tetapi 386DX dan 486DX merupakan chip 32 bit. Sesuatu yang baru dalam 486 ialah menjadikan satu math coprocessor/prosesor pembantu matematis.

  1. Processor Cyrix 486SLC

Cyrix dan Texas Instruments telah membuat serangkaian chip 486SLC. Chip-chip tersebut menggunakan kumpulan perintah yang sama seperti 486DX, dan bekerja secara internal 32 bit seperti DX. Tetapi secara eksternal bekerja hanya pada 16 bit (seperti 386SX). Oleh karena itu, chip-chip tersebut hanya menangani RAM 16 MB. Lagipula, hanya mempunyai cache internal 1 KB dan tidak ada mathematical co-processor. Sesungguhnya chip-chip tersebut hanya merupakan perbaikan 286/386SX.

  1. Processor IBM 486SLC2

IBM mempunyai chip 486 buatan sendiri. Serangkaian chip tersebut diberi nama LC2 dan SLC3. Yang terakhir dikenal sebagai Blue Lightning. Chip-chip ini dapat dibandingkan dengan 486SX Intel, karena tidak mempunyai mathematical coprocessor yang menjadi satu. Tetapi mempunyai cache internal 16 KB. SLC2 bekerja pada 25/50 MHz secara eksternal dan internal, sedangkan chip SLC3 bekerja pada 25/75 dan 33/100 MHz. IBM membuat chip-chip ini untuk PC mereka sendiri dengan fasilitas mereka sendiri, melesensi logiknya dari Intel.

10.  Pentium Classic (P54C)

Chip ini dikembangkan oleh Intel dan dikeluarkan pada 22 Maret 1993. Pentium merupakan super scalar, yang berarti prosessor ini dapat menjalankan lebih dari satu perintah tiap tik clock. Prosessor ini menangani dua perintah tiap tik, sebanding dengan dua buah 486 dalam satu chip. Terdapat perubahan yang besar dalam bus sistem : lebarnya lipat dua menjadi 64 bit dan kecepatannya meningkat menjadi 60 atau 66 MHz.

Sejak itu, Intel memproduksi dua macam Pentium yang bekerja pada sistem bus 60 MHz (P90, P120, P150, dan P180) dan sisanya, bekerja pada 66 MHz(P100, P133,P166, dan P200).

11.  AMD (Advanced Micro Devices)

Pentium-pentium AMD seperti chip-chip yang ditawarkan  oleh Intel bersaing dengan ketat. AMD menggunakan teknologi- teknologi mereka sendiri. Oleh karena itu, prosesornya bukan merupakan clone-clone. AMD mempunyai seri sebagai berikut :

- K5, dapat disamakan dengan Pentium-pentium Classic (dengan cache L1 16 KB dan tanpa MMX).

- K6, K6-2, dan K6-3 bersaing dengan Pentium MMX dan Pentium II.
- K7 Athlon, Agustus 1999, tidak kompatibel dengan Socket 7.

12.  AMD K5

K5 merupakan tiruan Pentium. K5 AMD juga ada yang PR166. Chip ini dimaksudkan untuk bersaing dengan P166 Intel. Bekerja hanya pada 116.6 MHz (1.75 x 66 MHz) secara internal. Hal ini dikarenakan cache yang dioptimasi dan perkembangan-perkembangan baru lainnya. Hanya ada fitur yang tidak sesuai dengan P166 yaitu dalam kerja floating-point. PR133 dan PR166 berharga jauh lebih murah dari jenis Pentium yang sebanding, dan prosessor ini sangat terkenal pada mesin-mesin dengan harga yang murah.

13.  IDT Winchip

IDT merupakan perusahaan yang lebih kecil yang menghasilkan CPU seperti Pentium MMX dengan harga murah. WinChip C6 pertama IDT diperkenalkan pada Mei 1997.

14.  AMD K6

K6 AMD diluncurkan 2 April 1997 . Chip ini berunjuk kerja sedikit lebih baik dari pentium MMX. Oleh karena itu termasuk dalam keluarga P6. Dilengkapi dengan 32+32 KB cache L1 dan MMX. Berisi 8.8 juta transistor. K6 seperti halnya K5 kompatibel dengan Pentium. Maka, dapat diletakkan di Socket 7, pada motherboard Pentium umumnya, dan ini segera membuat K6 menjadi sangat terkenal.

15.  Cyrix 6×86MX (MII)

Cyrix  mempunyai chip dengan unjuk kerja tinggi, berada diantara generasi ke- 5 dan ke-6. Jenis pertama didudukkan melawan chip Pentium MMX dari Intel. Jenis berikutnya dapat dibandingkan dengan K6. Prosessor kelompok P6 yang powerful dari Cyrix diumumkan sebagai “M2”. Diperkenalkan pada 30 Mei 1997 namanya menjadi 6×86MX. Kemudian diberi nama MII. Chip 6×86MX ini kompatibel dengan Pnetium MMX dan dipasangkan pada motherboard Socket 7 biasa, 6×86MX mempunyai 64 KB cache L1 internal. Cyrix juga memanfaatkan teknologi yang tidak ditemukan di dalam Pentium MMX.

6X86MX secara khusus dibandingkan dengan CPU generasi ke-6 lainnya (Pentium II dan Pro dan K6) karena tidak bekerja berdasar kernel RISC. 6X86MX menjalankan perintah CISC asli seperti Pentium MMX. 6X86MX mempunyai – seperti semua prosessor dary Cyrix – masalah yang berhubungan dengan unit FPU. Tetapi, jika hanya digunakan untuk aplikasi standart, hal ini bukan masalah. Masalah akan muncul jika memainkan game 3D. 6×86MX chip yang cukup powerful. Tetapi chip-chip ini tidak punya FPU dan MMX yang berunjuk kerja baik. Chip-chip ini tidak memasukkan teknologi 3DNow. Kecepatan Internal dan Eksternal 6×86MX

16.  AMD K6-2

Versi “model 8” berikutnya K6 mempunyai nama sandi “Chomper”. Prosessor ini

pada 28 Mei 1998 dipasarkan sebagai K6-2, dan seperti versi model 7 K6 yang asli, dibuat dengan teknologi 0.25 mikron. Chip-chip ini bekerja hanya dengan 2.2 voltage. Chip ini berhasil menjadi saingan Pentium II Intel. K6-2 dibuat untuk bus front side (bus sistem) pada kecepatan 100 MHz dan motherboard Super 7. AMD membuat perusahaan lain seperti Via dan Alladin, membuat chip set baru untuk motherboard Socket 7 tradisional, setelah Intel tahu 1997 menghentikan platform tersebut.

17.  Pentium Pro (1995)

Pengembangan Pentium Pro dimulai 1991, di Oregon. Diperkenalkan pada 1 November, 1995 . Pentium Pro merupakan prosessor RISC murni, dioptimasi untuk pemrosesan 32 bit pada Windows NT atau OS/2. Fitur yang baru ialah bahwa cache L2 yang menjadi satu Chip raksasa, dengan chip empat persegi panjang dan Socket-8nya. Unit CPU dan cache L2 merupakan unit yang terpisah di dalam chip ini.

18.  Pentium II (1997)

Pentium processor II merupakan processor yang menggabungkan intel MMX yang dirancang secara khusus untuk mengolah data video, audio, dan grafik secara efisien. Terdapat 7,5 juta transistor  terintegrasi di dalamnya sehingga dengan processor ini pengguna PC dapat mengolah berbagai data dan menggunakan internet dengan lebih baik.

Diperkenalkan 7 Mei 1997, Pentium II mempunyai fitur- fitur : CPU diletakkan bersama dengan 512 KB L2 di dalam sebuah modul SECC (Single Edge Contact Cartridge), terhubung dengan motherboard menggunakan penghubung/konektor slot one dan bus P6 GTL+.

19.  Pentium-II Celeron A : Mendocino

Bagian yang menarik dari cartridge baru dengan 128 KB cache L2 di dalam CPU. Hal ini memberikan unjuk kerja yang sangat baik, karena cache L2 bekerja pada kecepatan CPU penuh. Celeron 300A merupakan sebuah chip dalam kartu.

20.  Pentium-II   Xeon

Pada 26 Juli 1998 Intel mengenalkan cartridge Pentium II baru yang diberi nama Xeon. Ditujukan untuk server dan pemakai high-end. Xeon merupakan Pentium II dengan cartridge baru yang sesuai konektor baru yang disebut Slot two.

21.  Pentium III – Katmai

Maret 1999 Intel mengenalkan kumpulan MMX2 baru yang ditingkatkan untuk perintah grafis. Perintah ini disebut Katmai New Instructions (KNI) atau SSE. Perintah ini ditujukan untuk meningkatkan unjuk kerja game 3D – seperti teknologi 3DNow.  AMD Katmai memasukkan “double precision floating-point single instruction multiple data”/”floating point dengan ketelitian ganda satu perintah banyak data” (DPFS SIMD untuk singkatnya) yang bekerja dalam delapan register 128 bit. KNI diperkenalkan pada Pentium III 500 MHz baru. Prosessor ini sangat mirip dengan Pentium II. Menggunakan Slot 1.

22.  AMD K-7 Athlon

Processor AMD utama yang sangat menggemparkan Athlon (K7) diperkenalkan Agustus 1999.  Seperti pada Pentium II , yang rancangannya sepenuhnya milik AMD. Socket tersebut disebut Slot A.
- Kecepatan clock 600 MHz merupakan versi pertama.

- Cache L2 mencapai 8 MB (minimum 512 KB, tanpa tambahan TAG-RAM).
- Cache L1 128 KB.
- Berisi 22 juta transistor (Pentium III mempunyai 9.3 juta).
- Bus jenis baru
- Jenis bus sistem yang benar-benar baru, yang pada versi pertama akan bekerja pada 200 MHz. Kecepatan RAM 200

23.  Xeon Pentium III Processor

Merupakan processor yang dapat diskalakan (multiprocessor) sebanyak 2, 4, 8 atau lebih dan didesain secara khusus untuk mid-range dan server/workstations yang lebih tinggi tingkatannya.

Processor ini memiliki fitur :

· Sesuai untuk high end workstations atau high end servers
· Kecepatan berkisar dari 500 sampai 550MHz (di tahun 1999)
· Mendukung penskalaan multiprocessor
· Memiliki processor serial number
· 32KB (16KB data /16KB instruction) nonblocking, L1 cache
· 512Kbytes L2 cache

24.  Intel® Pentium® 4 Processor : 2000

Processor Pentium IV merupakan produk Intel yang kecepatan prosesnya mampu menembus kecepatan hingga 3.06 GHz. Pertama kali keluar processor ini berkecepatan 1.5GHz dengan formafactor pin 423, setelah itu intel merubah formfactor processor Intel Pentium 4 menjadi pin 478 yang dimulai dari processor Intel Pentium 4 berkecepatan 1.3 GHz sampai yang terbaru yang saat ini mampu menembus  kecepatannya  hingga 3.4  GHz.

25.  Intel® Xeon® Processor : 2001

Processor Intel Pentium 4 Xeon merupakan processor Intel Pentium 4 yang ditujukan khusus untuk berperan sebagai computer server. Processor ini memiliki jumlah pin lebih banyak dari processor Intel Pentium 4 serta dengan memory L2 cache yang lebih besar pula.

26.  Intel® Itanium® Processor : 2001

Itanium adalah processor pertama berbasis 64 bit yang ditujukan bagi pemakaian pada server dan workstation serta pemakai tertentu. Processor ini sudah dibuat dengan struktur yang benar-benar berbeda dari sebelumnya yang didasarkan pada desain dan teknologi Intel’s Explicitly Parallel Instruction Computing ( EPIC ).

27.  Intel® Itanium® 2 Processor : 2002

Itanium 2 adalah generasi kedua dari keluarga Itanium

28.  Intel® Pentium® M Processor  : 2003

Chipset 855, dan Intel® PRO/WIRELESS 2100 adalah komponen dari Intel® Centrino™. Intel Centrino dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar akan keberadaan sebuah komputer yang mudah dibawa kemana-mana.

29.  Intel Pentium M 735/745/755 processors : 2004

Processor ini dilengkapi dengan chipset 855 dengan fitur baru 2Mb L2 Cache 400MHz system bus dan kecocokan dengan soket processor dengan seri-seri Pentium M sebelumnya.

30.  Intel E7520/E7320 Chipsets : 2004

Processor 7320/7520 dapat digunakan untuk dual processor dengan konfigurasi 800MHz FSB, DDR2 400 memory, and PCI Express peripheral interfaces.

31.  Intel Pentium 4 Extreme Edition 3.73GHz : 2005

Sebuah processor yang ditujukan untuk pasar pengguna komputer yang menginginkan sesuatu yang lebih dari komputernya, processor ini menggunakan konfigurasi 3.73GHz frequency, 1.066GHz FSB, EM64T, 2MB L2 cache, dan HyperThreading

32.  Intel Pentium D 820/830/840 : 2005

Processor  ini berbasis 64 bit dan disebut dual core karena menggunakan 2 buah inti, dengan konfigurasi 1MB L2 cache pada tiap core, 800MHz FSB, dan bisa beroperasi pada frekuensi 2.8GHz, 3.0GHz, dan 3.2GHz. Pada processor jenis ini juga disertakan dukungan HyperThreading.

33.  Intel Core 2 Quad Q6600 : 2006

Processor untuk type desktop dan digunakan pada orang yang ingin kekuatan lebih dari komputer yang ia miliki memiliki 2 buah core dengan konfigurasi 2.4GHz dengan 8MB L2 cache (sampai dengan 4MB yang dapat diakses tiap core ), 1.06GHz Front-side bus, dan thermal design power ( TDP ).

34.  Intel Quad-core Xeon X3210/X3220 : 2006

Processor yang digunakan untuk tipe server dan memiliki 2 buah core dengan masing-masing memiliki konfigurasi 2.13 dan 2.4GHz, berturut-turut , dengan 8MB L2 cache ( dapat mencapai 4MB yang diakses untuk tiap core ), 1.06GHz Front-side bus, dan thermal design power.

Tabel. Perkembangan Processor Komputer

No. Nama Processor Gambar
1 Microprocessor 4004 (1971) -
2 Microprocessor 8008 (1972)
3 Microprocessor 8080 (1974)
4 Microprocessor 8086 (1978)
5 Microprocessor 286 (1982)
6 Processor 80386
7 Processor 80486 DX -
8 Processor Cyrix 486SLC
9 Processor IBM 486SLC2
10 Pentium Classic (P54C)
11 AMD (Advanced Micro Devices)
12 AMD K5
13 IDT Winchip
14 AMD K6
15 Cyrix 6×86MX (MII)
16 AMD K6-2
17 Pentium Pro (1995)
18 Pentium II (1997)
19 Pentium-II Celeron A : Mendocino
20 Pentium-II   Xeon
21 Pentium III – Katmai
22 AMD K-7 Athlon
23 Xeon Pentium III Processor
24 Intel® Pentium® 4 Processor : 2000
25 Intel® Xeon® Processor : 2001
26 Intel® Itanium® Processor : 2001
27 Intel® Itanium® 2 Processor : 2002
28 Intel® Pentium® M Processor  : 2003
29 Intel Pentium M 735/745/755 processors : 2004
30 Intel E7520/E7320 Chipsets : 2004
31 Intel Pentium 4 Extreme Edition 3.73GHz : 2005
32 Intel Pentium D 820/830/840 : 2005
33 Intel Core 2 Quad Q6600 : 2006
34 Intel Quad-core Xeon X3210/X3220 : 2006

DAFTAR PUSTAKA

http://ewhy_ponsel.blogs.friendster.com/my_blog/2007/05/sejarah_perkemb_1.html

http://fleahlit.web.id/?p=122

http://toms7777.wordpress.com/2007/05/15/sekilas-tentang-pc/

Hello world!

  • May 26, 2010 3:06 pm

Welcome to Blogstudent.mb.ipb.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!